Minggu, 28 November 2010

cerpen


 AIR & API
Apabila kupandang airmuka ayah, aku merasa senang. Mukanya bersih karena berkali-kali dicuci apabila mengambik air sembahyang.
Dahi mengkkilap karena sering sujud pada tikar sembahyang. Bahkan…. Aku kadang-kadang terheran-heran mengapa ayah mengambilair sembahyang, meskipun tidak hendak sembahyang.
Pernah kutanyakan, tapi ayah hanya tersenyum.
Hingga satu kali ….
Adikku Ismail menmpahkan tinta sehingga hamper semua bukuku terkena.
Bukan main marahku. Seolah-olah hendak kubalikkan saja meja karena amarah.
“ Ibnu, ambillaah air sembahyang … “
Aku memandang  ayah tak mengerti.
“maih lama waktu isya, Pak. . .”” kerjakan saja apa yang kusuruh …. Ismail, ambil lap.sebelum itu kumpulkan buku-buku yang kena tinta.”
Waktu itu aku menurut. Dengan hati yang mangkal aku menimba air dan berwudhu.
Air yang dingin itu sejuk meyirami tanganku, mukaku, telingaku.
Amarahku seolah-olah tersapu bersih dan dalam ketenagan aku merasa terlanjur telah marah-marah.
Aku iba hati elihat Ismail sendiri membenahi meja yang porak poranda.
Pasti tak sengaja Ismail berbuat ceroboh, meumpahkan tinta.
Katika aku sampai di ruangan belajar lagi, ayah berkata:
“buku-bukumu yang terkena tinta, kuganti…..”
Ayah memberiku buku-buku tulis dari persediaannya.
“nah, tak perlu marah bukan? Marahh tidak menyelesaikan persoalanmu. Ismail berbuat itu tidak sengaja. Ia sudah minta ma’af tentunya. Mengapa kau harus marah dan bukan  berusaha menyelamatkan buku-bukumu dari kemungkinan terkena tinta?”
Aku diam.
“marah itu berasal dari setan, dank au tahu setan itu barasal daari api …. Karena itu harus disiram air. Itulah mengapa kau kusuruh mengambil air sembahyang ….. “
Aku tersenyum mengulurkan tangan kepa Ismail :
“Lain kali hati-ahti, ya Bung . . . . . “
Ismail tersenyum pula.
SELESAI
Sumber: kumpulan cerpen Orang-orang tercinta.
Karya    : SUKANTO S.A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar